Kekhawatiran

 


Kalau ada yang bertanya, “Mengapa memilih menyukai orang yang tidak mengerti apa-apa soal menjalin hubungan?”, lalu kamu akan jawab apa?

Entahlah, bahkan rasanya sama saja seperti dengan yang lain. Bedanya, Ia akan terus bertanya perihal “apa aku mengganggumu?”, “apakah kamu sibuk?”, “apa kamu tidak merasa nyaman denganku?”, sampai aku merasa bahwa orang ini banyak sekali memiliki rasa kekhawatiran.

Kamu risih?

Sangat tidak mungkin aku memiliki perasaan itu bila Ia saja sangat tidak terduga.

Maksudmu?

Aku memalingkan wajahku ke arah lain sambil mencoba merangkai kembali ingatan-ingatan di bulan pertama aku berhubungan dengan lelaki itu.

Berawal di sore yang jingga saat aku sebentar saja merasa kehilangan, lelaki itu datang dengan ice cream di dua tangannya. Terkejut, tentu saja. Ia hanya datang dan memberikan ice itu kemudian duduk tanpa kata di sampingku. Membiarkanku tenggelam dalam pertanyaan sedang apa dia disini?

Lama kami terdiam, hingga salah satu dari kami membuka suara.

“Apa aku mengganggumu?”. Kubiarkan saja pertanyaan itu, tanpa jawaban.

“Aku kesini karna kupikir kamu akan butuh ini”. Lalu, Ia memelukku.

Untuk sebentar saja rasa kehilangan itu tak ada lagi di benakku. Atmosfer tiba-tiba berubah tatkala Ia berkata “apakah kamu sibuk? apakah kamu orang yang sibuk menyendiri disini dan melupakan aku yang harusnya jadi tempat kamu istirahat membuang penat? Apa kamu tidak merasa nyaman denganku? Padahal kamu punya aku yang bisa jadi apa saja buatmu. Tapi kamu lebih memilih berdiam disini, mau sampai kapan?”

Ya, ini yang kumaksud. Orang ini yang punya latar belakang tidak pernah berhubungan dengan orang lain adalah orang yang sangat punya banyak kekhawatiran untuk apa yang dia punya.

Aku terkekeh. “Sayang… sejujurnya aku ingin mengajakmu, tapi sulit rasanya membagi sedih dengan orang yang punya banyak sekali rasa khawatir di benaknya. Kenapa? Karna kamu akan berubah jadi lelaki yang sangat cerewet. Tapi… aku suka.”