"Ra..."
“Kenapa?”
“Jika suatu hari kita
tidak berakhir dengan bahagia, bagaimana?”
“Maka aku akan segera
membuatmu melupakanku”.
“Mengapa?”
“Agar kamu mencari
bahagiamu yang lain, dengan tidak lagi bersamaku”.
“Ra…”
“Kenapa?”
“Bagaimana jika ku
katakan bahwa perihal melupakan aku bukan ahlinya?”
“Maka jangan katakan hal
yang membuatmu berandai hal yang menakutkan itu. Sudah. Akan aku janjikan satu
hal. Ingat ini. Jika kamu takut kita tidak berakhir dengan bahagia, maka
bersama saja denganku.
“Mengapa?”
“Karna aku tidak akan
pergi. Kamu juga tidak akan kemana-mana. Ya, kan? Jadi, kita akan terus
sama-sama sampai ketakutanmu itu tidak akan pernah terjadi.
Aku terkekeh di sudut
paling temaram bilik cafe yang hampir tutup. Masih ku tatap nyala handphone
yang menampilkan video singkat saat aku dan Ara bercengkrama di hadapan senja.
Bahkan aku hampir tidak percaya, bahwa dua tahun lalu dua orang ini pernah
begitu mencintai.
Tidak lama, seseorang masuk
dari luar cafe dengan tergesa. Ia melambai kepadaku dengan nafas terburu. Aku
tersenyum. Tenang saja, orang itu menepati janjinya. Sekarang dia sedang
menjemputku setelah berkelana entah kemana.
Semburat tawa merekah di
kedua pipinya. Masih sama. Orang yang sama. Dan kami, masih belum punya akhir
seperti andai-andaiku di hadapan senja kala itu.
“Sudah selesai
berkelananya?”
“Sudah. Sekarang aku
kembali sama kamu”.
“Tadi kemana aja?”
“Menepati janji”.
“Kamu tidak jawab
pertanyaanku”.
Ara tertawa kecil. Aku
tidak tahu hal aneh apa dari perkataanku sampai orang ini begitu membuat
bingung.
“Kamu tahu? Aku bisa saja
menjadi kelana yang tidak pulang-pulang. Aku bisa saja menjadi pilot yang
melayang-layang di banyak tujuan. Tapi aku tidak mau. Aku punya rumah. Dan
rumah itu kamu. Sekarang aku sudah pulang ke rumah itu”.
Sudah aku bilang. Ara
punya banyak cara untuk menaklukkan rasa penasaranku. Lagi-lagi, aku merasa
jatuh cinta.
“Jadi?”
“Apa?”
“Ayo, kita pulang ke
rumah sesungguhnya”.
“Rumahmu kan aku”.
“Benar. Tapi kamu tetap
kebasahan kalau turun hujan. Aku ingin pulang ke rumah yang bisa melindungi
kita dari hujan”.
Ara benar. Tapi aku tetap
tidak ingin kalah kali ini. Rasanya aneh jika harus terus kalah terhadap
omongan lelaki itu.
“Aku bisa melindungimu
dari hujan”.
“Bagaimana?”
“Begini”.
Ara kaget ketika tubuhku
telah menempel dalam dengan hangat tubuhnya. Seperkian detik tangannya naik
perlahan di atas kepala dan mengusap lembut rambutku.
“Kita berdua akan
kebasahan”.
“Biar saja”.
Lama dua tubuh itu saling
mencari kehangatan di sela-sela dinginnya malam. Ara sangat bisa menjadi peluruh
lelah, penghapus sepi, peredam sulit yang aku butuhkan. Apakah saat menulis
perjalanan hidupku, kisah mengenai Ara ditulis Tuhan saat Dia sedang senang?
Entahlah, yang pasti memiliki Ara di hidupku adalah hal yang mestinya aku
syukuri.
“Sudah?”
“Belum”.
“Kita lanjut di rumah
saja, ya”.
Aku mendongak untuk
melihat wajah lelahnya. Wajah yang tidak pernah absen kulihat di pagi hari
sejak dua tahun lalu. Wajah yang selamanya akan bersama-sama denganku. Wajah
yang sudah tahu apa kebiasaanku. Tingginya sangat melibihi tinggiku. Ah,
menceritakan tentang lelaki ini akan menghabiskan banyak lembar kertas.
“Iya, ayo kita pulang ke
rumah”.
Dan Ara di dalam janjinya
untuk tidak akan membuatku berandai untuk melupakannya mengatakan akan terus
bersamaku. Dia telah membuktikannya.
Sekarang kami telah
mempunyai rumah yang akan diisi oleh pertanyaan-pertanyaan anehku dan
jawaban-jawaban ajaib Ara. Kami telah mempunyai tempat menampung segala sedih,
lelah, senang yang datang dari segala penjuru. Tapi aku tidak takut. Karna Ara,
lelaki itu selalu bersamaku. Dan melupakan? Aku sudah tidak ingin membicarakan
hal itu. Karna sejak awal ku katakan, bahwa aku bukan ahlinya. Dan Ara, dia
tidak ingin menjadi penyebab perihal itu. Jadi, janjinya saat itu akan terus
berjalan bersama kami di sepanjang langkah kaki.
Palangka Raya, 01 Oktober 2022
